Another Line To Journey

My thoughts, My line, My story

Punggung yang Kurindu

Punggung itu, aku merindukannya. Punggung yang berada jauh disana, dari jangkauanku, mungkin sudah ada pemiliknya. Tapi, aku masih merindu.

Ada damai saat aku melihat punggung itu, tampak ada kerinduan. Aku tak peduli siapa pun pemilik punggung itu kini, karena aku hanya merindu.

Aku tak berniat memiliknya. Biarkanku merindu saja. Karena aku selalu merasa nyaman, tiap kali menatap punggung yang menjadi sandaran dalam bayanganku itu.

I missed that back, and the old shared memories :)

- widiby16

Bahagia yang Kurindu

Andai ada satu saja kebaikan dalam dirimu yang membekas diingatanku. Sebelum penyakit hati ini terus menerus menggerogoti. Membuat lubang yang semakin dalam, semakin lebar. Hingga aku tak tahu lagi, dimana kebaikan itu berada. Rasa benci dan tidak nyaman tiap kali melihatmu. Sekaligus iba atas kelakuanmu.

Kau sudah begitu dewasa, tapi perilakumu tidak begitu. Ada yang salah pada dirimu. Kau bahkan telah menyadari berulang kali, tapi kau abaikan. Kau terlalu gengsi. Menyatakan kau salah, itu bagai sebuah harga yang harus kau bayar mahal.

Berulang kali pula aku mencoba pupuskan perasaan ini. Tapi, tiap kali itu pula kau berulah. Membuat perasaan tidak nyaman itu muncul lagi. Dan yang paling kubenci adalah aku tidak sanggup melawanmu sepenuh hati.

Kubiarkan kebencian atasmu berkobar dalam hatiku. Tapi secara lugas mengikrarkan aku benci dengan kata-kata yang bergulir dari bibirmu saja aku tidak mampu. Aku diam, tapi bercerita di belakang punggungmu. Aku ingin kau tahu, kau sudah terlalu tua untuk diingatkan. Tapi, peringatan apapun tak lagi mempan bagimu.

Tidakkah kau lelah? Menjadi seseorang yang menyebalkan seperti itu? Jujur, aku lelah dengan perasaan busuk yang menyelimuti hati ini. Aku lelah tiap kali bertemu denganmu, kau tidak bisa lama membuat suasana damai. Kau selalu berulah tiap kali aku berniat memaafkanmu.

Tapi kita terikat darah, aku tidak bisa benar-benar membencimu. Aku hanya tidak suka caramu menyepelekan berbagai hal disekitarmu. Ingin selalu merasa unggul. Kau seringkali menganggap enteng, nyatanya kau tidak lebih baik.

Berhentilah begitu dan berdamailah dengan dirimu sendiri. Tak sadarkah kau sudah terlalu dalam membuat luka dalam jiwamu? Merobeknya sedikit demi sedikit. Membuatnya semakin sakit. Luka itu kian menyakiti nuranimu.

Aku benci tidak bisa menolongmu. Aku bahkan kesulitan berdamai dengan hatiku sendiri tiap kali bertatap denganmu. Aku seperti orang paling bodoh dan paling menyedihkan. Bahkan aku ketakutan untuk menolong diriku sendiri.

Tapi, aku lelah begini. Aku ingin berdamai dengan diriku sendiri, dengan masa lalu dan dengan keadaan yang kujalani saat ini. Tak ada kata terlambat untuk belajar. Memulai langkah dari awal lagi. Tertatih, bahkan andai itu memilukan, tak apa. Asal bisa jadi seseorang yang lebih baik, aku tidak keberatan.

Tuhan, aku ini makhluk yang menyedihkan ya. Dengan membiarkan sejuta kebencian membenamkanku dalam jurang nestapa. Membuatku terpuruk karena terus merutuki hal-hal yang tidak perlu. Dan menghitamkan jiwa ini, semakin kelam.

Tapi, selalu ada cerita yang kuselipkan ditiap doa yang kupanjatkan. Sebuah kerinduan pada perasaan yang dulu terasa hangat. Saat aku rindu dia ketika kami berjauhan. Rindu saat aku melihat sosok yang bisa kubanggakan dalam dirinya. Membuatku bangga memiliki saudara sepertinya.

Maka dari itu Tuhan, aku ingin kembali bisa merasakan bahagia saat berada di dekatnya. Sebentar saja pun, tak apa. Merasakan kembali secuil rindu yang tanpa beban. Seperti dulu, saat kami masih kecil.

- widiby16

Takdir-Mu kah ini Bagiku, ya Rabb?

Apakah selamanya aku harus melepaskan ego-ku demi kematangan hati? Demi sesuatu yang nyata dan bahagia untuk semua? Untuk mereka, orang-orang terkasih dalam hidupku.

Sepertinya aku sudah terlalu keras kepala, terlalu berkeras hati atas keyakinan yang kupilih ini. Tuhan telah memberi jawaban, nyata dan pasti. Hanya saja, siapkah aku dengan petunjuk dari Tuhan ini?

Aku sadar, akan tiba saatnya aku harus hidup di dunia ini dengan segala kenyataannya. Bukan bermanja dengan buaian asa yang hanya berlaku sesaat saja.

Aku sadar aku harus bertanggung hawab atas diriku sendiri. Bertanggung jawab untuk kebahagiaanku sendiri. Bukan bahagia sekejap mata, tapi selama hayat kubawa.

Sepertinya aku harus merelakan segala keinginan sepihak yang selama ini membalutku dalam fatamorgana. Hidup ini nyata dan aku hidup di dalamnya.

Pintaku ya Tuhan, demi kebaikan yang akan kubawa sepanjang usiaku ini.

Tuhan, jika ini baik untuk urusanku di dunia dan akhirat-Mu, bukakanlah jalannya. Tapi bila ini membawa ke-mudharat-an untuk urusanku di dunia maupun di akhirat nanti, maka tunjukkanlah aku jalan-Mu yang terbaik.

Demi harapku agar bisa selalu dekat dengan Engkau, wahai Rabb-ku yang Maha Mengetahui atas apapun baik yang kasat maupun tak kasat mata ini. Aku berserah pada-Mu ya Rabb..

- widiby16

Mendung itu.. Hujan.

Mendung tak selamanya hujan, begitu pula sebaliknya. Seperti hati seorang perempuan paruh baya yang tengah disapa mendung, tapi ia begitu kuatnya bertahan. Baginya, tak perlu air mata pengobat lara. Karena sesungguhnya air mata itu sudah lama mengering. Ia hanya bersandar seorang diri dan merenung. Menatap mendung di balik jendela bak hatinya yang muram.

Pelukan itu terasa hangat membenami punggungnya. Seorang sahabat baik tersenyum dan menyapanya. Sahabatnya itu tidak berusaha menghibur, ia hanya membiarkan saja. Sampai perempuan itu lelah dan mau bercerita.

Ah, mungkin dia akan mendengar kisah yang sama. Kerinduan yang mendalam pada sang buah hati. Seorang anak lelaki yang merantau dan ingin memperbaiki hidup. Bak cerita malin kundang yang dikisahkan seperti kacang lupa kulitnya.

Begitupun dengan sang suami yang tega meninggalkannya bertahun yang lalu demi wanita lain. Kian hari hatinya kian beku untuk pria yang pernah mengisi hidupnya dulu. Baginya, anak lelakinya-lah satu-satunya permata yang ia miliki. Dan permata itu pun kini entah dimana.

Terkadang, melalui sahabatnya itulah tampak deraian air mata. Luka yang dialami perempuan paruh baya itu ternyata melukai juga hati sahabatnya. Perempuan itu ingin tetap menjaga hatinya tuk percaya, tapi raganya kian melemah.

Sampai suatu hari terdengar kabar tentang putra satu-satunya itu, melalui sahabatnya. Sang putra akhirnya kembali. Ya, kembali ke pangkuannya untuk selamanya. Dengan batu nisan bernamakan putranya itu yang kini ia ratapi dengan hati yang pedih. Begitu pula disambut mendung yang beriring hujan kemudian.

Air mata yang tadinya mengering itu kembali basah. Basah untuk yang terakhir kalinya. Sebelum perempuan paruh baya itu menghembuskan nafas terakhirnya di hadapan batu nisan sang putra. Mereka berjumpa kembali memang, dalam kekal yang tiada ada lagi kepahitan di dalamnya.

- widiby16

Dear Life-Ruiners.

If there is no trust within, so what may come next? I’ll be such a living corpse to put a life with.

Even I did my all, they won’t gave it a damn. No considering, no one accept what’s best may I take, but I’ll still go.

They won’t even noticed, yet complains. Like they shared a boat in my life. So heck, why do I care?

Since I’m the one who live my life, and driving for it to the limit. Since I never cross the border the God’s state.

So, with all my sincere, I’m sorry I’ll keep going.

- I, widiby16

Mereka Bahagiaku

Mereka lemah, begitu rapuh. Mereka sudah bersama denganku bukan sehari dua hari. Kedekatan itu bukan candaan saja. Bukan sesuatu yang kau sebut pencitraan atau bualan.

Kau tahu? Aku memohon pada Tuhan untuk memaafkanmu. Memberi pengampunan yang terbaik. Agar hati dan pikiranmu terbuka.

Hey, sebenci itukah kau padaku? Mereka kebahagiaanku. Dan sekali lagi, ingin kau rebut juga itu dariku? Yang kau pikirkan hanya bahagiamu saja.

Semoga kelapangan hati dibukakan Tuhan yang selebarnya untukku. Agar ikhlasku membuka jalan. Jalan kebaikan yang menyelamatkan.

Karena sekali lagi, mereka bahagiaku.

Mari belajar bahasa syurga ! :’)

1. Salam ukhwah fillah - salam persahabatan kerana Allah .
2. Ukhti - kakak atau saudara perempuan .
3. Akhi - abang atau saudara lelaki .
4. Zauj - suami .
5. Zaujah - isteri
6. Assif jiiddan - i’m really sorry
7. syukran-afwan - terima kasih - sama-sama
8. Ukhuwwah Fillah Abadan Abada - persaudaraan kerana Allah selama-lamanya
9. fa’iza ‘azamta fatawakkal’alallah - setelah kamu berazam maka bertawakkal lah
10. iinni akhafullah - sesungguhnya aku takutkan Allah
11. mafi qalbi ghairullah - tiada apa di dlam hati selain Allah
12. Lau samahta - excuse me
13. Naltaqi ghadan - kita jumpa lagi esok
14. Ilalliqa’ - Moga bertemu lagi
15. Syafaakallah - Moga Allah menyembuhkan awak – lelaki)
16. Syafaakillah -Moga Allah menyembuhkan awak – perempuan)
17. taffadhol - silakan
18. la aadri - saya tak tahu
19. ma fi musykilah - tiada masalah
20. Bitaufiq wannajah - semoga mencapai kejayaan
21. Jazakallahu khairan kathira - Semoga Allah memberi/menambah kebaikan yang banyak kepadamu
22. Wa iyyaka - dan ke atas kamu juga (jawapan utk jazakallahu khairan kathira)@Allahukhairujaza’ - Allah adalah sebaik-baik pemberi
23. fahimtum - adakah anda faham ?
24. fahimna - kami telah faham
25. sobahalkhair - selamat pagi
26. ijtahid wala taksal - bersunggguh-sungguh dan janganlah kamu malas
27. La Tahzan Innallaha Maana - Janganlah bersedih , sesungguhnya Allah bersamamu .
28. Kafaa bilmauti waa-‘izhan - cukuplah kematian itu menjadi peringatan
29. Bi idznillah , Inshaallah kull khayr ! Ameen , Barakallahu fiek - dengan izin Allah , inshaAllah semuanya baik ! Aamiin , semoga Allah merahmati kamu
30. masa ul khair - selamat petang
31. Tushibu ‘alal khair - selamat malam
32. Na’am - Ya
33. yallah yallah bisura’h - mari-mari cepat(lekas2)
34. ismahli ya ustaz/ustazah,uridu an azhaba ilal dauratul miah ?-tumpang tanya wahai ustaz/ustazah , bolehkah saya ingin ke bilik air ?
35. sannah helwah - happy birthday
36. ana aidon - saya juga
37. Maas salamah - Selamat tinggal
38. alaa khoirin wa afiyyah - dalam keadaan baik dan sihat
39. nin sain ? - kamu ada dimana ?
40. ayyuhidma alaik - apa yang boleh saya bantu
41. Barakallahu fik - Semoga Allah memberkati kamu
42. Dai’e - pendakwah
43. Allah ghoyatuna - Allah tujuan kami
44. Ar-Rasul qudwatuna - Rasul teladan kami
45. Al-Quran dusturna - Al-Quran panduan kami
46. Al-Jihad sabiiluna - Jihad jalan kami
47. Al-Mautu fi sabilillah asma amanina - syahid cita tertinggi kami
48. Innallaha ma’ana - sesungguhnya Allah bersama kami “

—(via niqabis-purple)

Mari belajar :D

(via viviaramie)

(Source: sebarkancintailahi, via viviaramie)

Titik Tujuan

Diam tak tertuju pada sebuah titik. Dikala gelisah menyeruak masuk. Dia tak mengizinkanku menapak keluar darinya. Bersembunyi diantara celah yang ditembus cahaya temaram. Tak kunjung enyah, membuat ruang gerakku terbatas. Mengapa kekuatanku tak lebih besar darimu? Nantinya, aku tau mau menyebut ini takdir. Harusnya aku masih bisa bertahan. Masih kuat berlari menuju titik itu.

Hanya saat ini, mungkin. Rasanya aku jadi terbiasa, terlalu nyaman disini. Meski ruang gerakku terbatas, sepertinya aku tak mau kemana-mana.

Titik itu tak pernah menjauh, akulah yang bergerak mundur. Melangkahkan tapakan ini entah ke segala arah. Yang bahkan aku sendiri tak tahu sedang ada dimana. Mungkinkah aku membawa diriku semakin jauh lagi? Makin menjauh dari titik semula? Atau titik yang menjadi tujuan perjalanan ini?

Aku meraba yang tidak pasti. Hanya keyakinan ini yang menguatkanku saat ini. Jarak yang kutempuh kian jauh, karena aku melakukan berbagai perputaran.

Tapi rasanya, mantap kujalani langkah demi langkah. Meski masih belum kutemukan asalnya cahaya yang membawa hangat dalam tubuhku. Meski masih temaram, meski gelisah menyelimuti. Meski di depan nanti ternyata bukan titik ini takdirku. Rasanya aku tak ingin berhenti. Ingin kulalui saja perjalanan mendebarkan ini.

Keyakinan yang menjadi sebinar cahaya, jangan lelah. Perlahan saja tuntun aku pada titik terbaiknya.

- widiby16

Anak ini doyan bener tidur telentang, biar lega kali ya perutnya :v #last#night#shoot#oreo#loves#to#sleep#on#the#back

Anak ini doyan bener tidur telentang, biar lega kali ya perutnya :v #last#night#shoot#oreo#loves#to#sleep#on#the#back

andreascollo:

The sky above
Umbrellas, sculpture by Georgios Zongolopoulos.
Available for purchase as fine art print on Redbubble.

andreascollo:

The sky above

Umbrellas, sculpture by Georgios Zongolopoulos.

Available for purchase as fine art print on Redbubble.

(via fog-grey)